Steps in Creating PJP Route

Empat Langkah Teknis Menyusun Rute PJP ('Permanent Journey Plan' atau 'Perjalanan Jalur Penjualan')


Paling tidak, terdapat empat langkah utama yang bersifat teknikal dalam menyusun rute PJP secara sistematis, yaitu sebagai berikut:

Step 1: Persiapan Dataset

Siapkan dataset yang minimal berisi kolom berikut:
  • Latitude
  • Longitude
  • Nama / Kode Outlet / Toko
Teman-teman dianjurkan (opsional) untuk menambahkan kolom pendukung lain, seperti:
  • Nama Area (Kabupaten, Kecamatan, Kelurahan, dll.)
  • Channel Outlet (GT, Grosir, Mini Market, Supermarket, dsb.)
  • Sales Revenue
  • Frekuensi kunjungan
  • Salesman (jika sudah ada)
Format file tidak wajib, namun sangat disarankan menggunakan format CSV, karena:
  • Lebih ringan
  • Mudah dibaca oleh QGIS
  • Lebih fleksibel untuk diproses di Power BI maupun Excel
Simpan file dataset tersebut di folder yang mudah diingat, karena akan digunakan berulang kali pada tahap berikutnya.

Saya menggunakan Dataset ini (Template PJP 4.1.4)



Step 2: Clustering

Pada tahap ini, area kerja yang besar akan dipecah menjadi bagian-bagian yang lebih kecil yang disebut Cluster.

Sebagai contoh:
  • Dalam Template PJP v4.1.4 terdapat 6 Kabupaten dengan total ±4.000 titik outlet
  • Area sebesar ini tidak mungkin dikelola sebagai satu kesatuan
  • Oleh karena itu, perlu dibagi menjadi beberapa cluster yang lebih manageable
Dalam beberapa literatur Sales Management, cluster juga dikenal dengan istilah Basic Geographic Control Unit (BCU).

Cluster adalah kumpulan outlet yang:
  • Berdekatan secara geografis
  • Logis untuk dikunjungi oleh satu Salesman
  • Dapat dikelola dalam satu area kerja atau rute tertentu
Dalam konteks aktivitas Salesman, pembentukan cluster biasanya mempertimbangkan tiga hal utama:

1. Kedekatan Lokasi (Spasial)
  • Latitude & Longitude
  • Jarak tempuh antar outlet
  • Akses jalan dan karakter wilayah (perumahan, pasar, ruko, dll.)

2. Beban Kerja yang Seimbang
  • Jumlah outlet per Salesman
  • Call per day
  • Call cycle (weekly / bi-weekly)

3. Karakter Outlet (Opsional)
  • Channel (GT, Grosir, Mini Market, Supermarket)
  • Potensi sales
  • Frekuensi kunjungan

Singkatnya, area dapat dibagi menjadi beberapa cluster sesuai dengan jumlah Salesforce atau pertimbangan operasional lainnya.

Sebagai gambaran:
  • Satu cluster bisa berisi ±300 outlet
  • Jumlah tersebut tidak baku, dan bisa disesuaikan dengan kebutuhan

(Silakan lihat postingan terpisah tentang cara menghitung jumlah Salesman)
Metode Clustering yang Bisa Digunakan

Clustering dapat dilakukan dengan beberapa cara, antara lain:
  • Manual, menggunakan plug-in ArcGIS Maps for Excel (gratis)
  • Manual, dengan metode Grid-Based menggunakan Excel
  • Menggunakan script Python di Power BI Desktop (versi gratis)
  • Menggunakan script Python di QGIS (gratis dan open-source)
  • Menggunakan Tool Processing K-Means Clustering di QGIS
👉 atau dengan cara menggunakan Tool K-Means yang ada di Website ini https://www.salesroute.id/2025/12/chk.html.

Anda tinggal mengupload dataset di atas dan mengatur berapa banyak Cluster yang diinginkan sesuai kebutuhan di Lapangan.


...

Step 3: Routing dan Sequencing

Setelah proses clustering selesai, setiap cluster akan diolah lebih lanjut menjadi rute-rute harian yang realistis dan sesuai dengan kemampuan Salesman.

Saya menyebut tahap ini sebagai Salesman Coverability, yaitu sejauh mana Salesman mampu meng-cover outlet secara optimal dalam satu hari kerja.

Dalam praktik FMCG, rata-rata outlet yang bisa dikunjungi Salesman per hari adalah:
±25–30 call / kunjungan

Contoh Perhitungan Sederhana:
Misalnya di suatu area terdapat:
  • 3.000 outlet
  • Rata-rata 1 cluster berisi 300 outlet
  • Rata-rata kemampuan Salesman adalah 30 outlet per hari
Maka:
  • 1 cluster akan terbagi menjadi 10 rute
  • Setiap rute berisi ±30 outlet
Bagaimana Melakukan Routing?
Routing dapat dilakukan dengan:
  • Cara manual (mengurutkan outlet satu per satu), atau
  • Cara yang lebih cepat, praktis, dan efisien waktu, yaitu menggunakan:
  • Power BI
  • QGIS
Tersedia banyak script dan metode routing yang bisa dipilih sesuai kebutuhan.
Di sini saya menawarkan cara yang paling sederhana dan cepat, bahkan bisa selesai hanya dalam hitungan detik. Silakan coba melalui link berikut:
👉 Route Optimizer

Tahap Sequencing (Penentuan Urutan Kunjungan)

Pada tahap ini, rute yang sudah terbentuk akan diberikan urutan kunjungan (sequence), mulai dari:
  • Titik awal
  • Outlet pertama, ke dua, ke tiga, empat dst
  • Hingga outlet terakhir
  • Dan ditambahkan perjalanan kembali ke Gudang / DC (ini sangat disarankan agar bisa dihitung total jarak perjalanan hari itu)
Sequencing dapat dilakukan menggunakan metode yang sama seperti routing, atau langsung menggunakan Route Optimizer.

Terdapat dua opsi sequencing yang umum digunakan:
  • Route tanpa titik awal (DC tidak ditentukan)
  • Route PP (Round Trip)
  • Perjalanan dimulai dari DC → Outlet → kembali ke DC


Step 4: Route Visualization (Optional)

Pada tahap ini, hasil Routing dan Sequencing akan divisualisasikan agar:
  • Mudah dipahami
  • Mudah dianalisis
  • Mudah dipresentasikan ke Supervisor atau Management
Visualisasi rute dapat dilakukan menggunakan:
  • Power BI atau Tableau dan tools BI lainnya
  • QGIS Map
  • ArcGIS Map 
Lalu, bagaimana cara memvisualisasikannya secara rapi dan informatif?
👉 Akan kita bahas di postingan berikutnya.




Home